Terus Berinovasi, Ini Keunikan Andaliman “Si Merica Batak” Khas Danau Toba

Posted by

Oleh : Lisa Deslina

Danau Toba merupakan salah satu dari kisah legenda rakyat Indonesia dan kini menjadi tempat wisata andalan Sumatera Utara. Danau ini memiliki kedalaman 505 meter, dan menjadi danau paling dalam satu-satunya di dunia.


Sabtu pagi (6/April/2019), saya datang ke acara Yayasan Dr. Sjahrir yang bertema “Andaliman Cita Rasa Danau Toba“. Acara tersebut bertempat di Almond Zucchini Cooking Studio, Jakarta dan dihadiri oleh teman-teman media serta blogger sekitar 50 orang.  Sebelum acara dimulai kami di suguhkan sarapan ringan dan minuman segar biji selasih dengan parutan timun yang sudah disediakan oleh panitia. Lumayan mengisi perut yang sudah kriuk-kriuk.

Teman-teman blogger dan media sedang sarapan
Minuman timun dengan biji selasih

Acara dibuka oleh MC Amril Taufik Gobel yang menjuluki dirinya sebagai blogger kolonial. Informasi pertama yang menyejukkan di acara ini yaitu pemerintah Indonesia melalui Kementerian Desa sedang gencar bangun pertumbuhan ekonomi desa dan 10 pariwisata baru, salah satunya wisata Danau Toba. Dengan dukungan dan perhatian pemerintah saya yakin SDM (Sumber Daya Manusia) yang kreatif bisa semakin terasah dan segera go public.
Horas, horas, horas! -Amanda Katili Niode
Sambutan pertama dari ibu Amanda Katili Niode dari Omar Niode Foundation sebagai salah satu narasumber. Beliau berkata Yayasan Dr. Syahrir di dirikan untuk meneruskan misi visi dan pemikiran almarhum Dr. Sjahrir. Yayasan Dr. Sjahrir bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Sudah banyak melakukan kegiatan dan salah satunya kali ini mengangkat tentang Andaliman.

Andaliman di gadang-gadang merupakan simbol untuk solusi masalah global seperti:

  1. Penanggulangan kemiskinan
  2. Pemberdayaan perempuan
  3. Pemulihan ekosistem
  4. dan inkusivitas

Andaliman juga telah dikenalkan ke lidah penikmat kuliner luar negri dalam acara Indonesia Pavilion UNFCCC – COP 24 di Katowice, Poland tahun 2018 lalu. Konon menu andaliman menjadi favorit para tamu yang hadir, karena punya keunikan cita rasa tersendiri.

Tamu undangan UNFCCC sedang mencicipi sambal andaliman/ Sumber gambar: Marandus Sirait


Andaliman itu apa?

Jadi, Andaliman adalah tanaman perdu asia yang dikenal sebagai szechuan Pepper dengan nama latin Zanthoxilum acanthopodium. Awalnya Andaliman tumbuh di sekitar Danau Toba, terletak di semak-semak hutan. Bentuknya bulat kecil, warna hijau, bergerombol dan memiliki duri di batang pohonnya. Yang membuat Andaliman unik adalah aromanya kuat, dan mempunyai rasa pedas getir yang membuat lidah terasa kebas, pedas banget dong guys!
Apakah rasanya seperti cabai? Tidak, masyarakat Sumatera Utara menyebut Andaliman atau itir-itir ini sebagai merica batak. Andaliman di klaim menjadi bumbu wajib di setiap masakan masyarakat batak. Sebagai anak milenial keturunan Jawa ini pertama kalinya saya mendengar tentang rempah Andaliman khas Danau Toba. Saya kian penasaran.

Andaliman

Penanaman & Budidaya Andaliman di Taman Eden 100

Foto di atas adalah wujud Andaliman. Saya juga mencicip kripik di colek sambal Andaliman, pas makan saya jadi teringat bumbu pepes ikan. Tapi, ada yang beda wanginya seperti jeruk nipis. Dan pedasnya itu nempel lama di lidah bikin nagih buat colek lagi. Mantap betul!
Pegiat lingkungan hidup pak Marandus Sirait berbagi cerita awal mula ia membudidayakan Andaliman dari nol. Kata pak Marandus menanam Andaliman susah-susah gampang, cukup sensitif tidak semua tempat bisa tumbuh harus di ketinggian 1.000 m sd 1.800 m dpl dan hanya bisa bertahan hidup di suhu dingin. Faktor cuaca juga bisa mempengaruhi turun naiknya harga Andaliman. Umumnya 1 Kg di bandrol dengan harga Rp 50 ribu – Rp 300 ribu.

Sambal dan bubuk Andaliman, sasagun, keripik

Beliau sempat melelang medali emas dari UGM tahun 2013 yang didapatnya sebagai apresiasi telah berjasa terhadap lingkungan hidup. Ia menjual medali tersebut untuk modal mengembangkan produk andaliman. Kini masyarakat pun tidak perlu kesulitan mencari Andaliman ke dalam hutan.
Lebih baik menanam sebatang pohon di alam terbuka, daripada menyimpan sebatang emas di lemari besi terkunci. -Marandus Sirait.
Kalimat tersebut membuat saya sebagai pendengar takjub dan termotivasi. Perjuangan pak Marandus dalam budidaya Andaliman di Danau Toba sangat mulia. Beliau berharap cita rasa Andaliman bisa tersebar ke seluruh Indonesia. Dalam Talkshow ini pak Marandus membawa langsung beberapa pohon andaliman dan produk Andaliman olahan dari Sumatera Utara.

Bandrek Andaliman, Kacang telur Andaliman

Inovasi Andaliman dan ekonomi kreatif

Menurut ibu Ir. Murni Titi Resdiana, MBA perwakilan kantor utusan khusus presiden bidang pengendalian iklim, melalui program prioritas pembangunan desa Andaliman bisa menghasilkan banyak hal.

Ibu Titi meyakini makanan khas Sumatera Utara menjadi cita rasa khas Indonesia atau Internasional yang bisa di modifikasi. Tidak hanya dijadikan bumbu masakan, Andaliman bisa di kembangkan menjadi produk minyak, sabun merica, fragrance diffuser (pengharum ruangan), & pepper spray (semprotan merica).
“Si Merica Batak” ini bisa di jadikan produk yang bisa di kreatifitaskan. Apalagi bila di jadikan “Andaliman Pepper Spray made in Indonesia” wah untuk skala perempuan yang suka jalan-jalan pepper spray bisa jadi alat darurat melindungi diri. Selain itu bisa untuk scrub, lilin therapy botanical yang dibawahnya bening sangat catchy, permen yupi rasa pedas sepertinya belum ada nih.

ilustrasi kreasi produk Andaliman
Dr. Ir. Hj. Wan Hidayati M.Si
(Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara)

Wisata tersembunyi di Danau Toba

Hadir pula di acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara yaitu ibu Dr. Ir. Hj. Wan Hidayati MSi yang menjelaskan secara detail tentang Danau Toba. Ternyata jika berkunjung kesana selain bisa melihat pohon Andaliman banyak wisata yang bisa di kunjungi saya semakin penasaran ingin keliling Danau Toba, pasti banyak yang bisa saya ulik dan pelajari. Ibu Wan Hidayati pun mengatakan:
Ada satu site kita bisa melihat legenda daripada Toba, karena nampak  Toba itu seperti ekor ikan. Banyak hal yang menarik disana. Yang mungkin banyak yang belum tahu Toba dari view yang mana. Kita bisa melihat museum bata, geopark site, dan seperti batuan-batuan yang umurnya 250 juta tahun. -Wan Hidayati.

Selepas bincang-bincang diskusi dengan para narasumber, kami diajak untuk melihat demo masak fish satay (sate ikan) Andaliman bersama chef Rahung Nasution. Di demo masak ini kita bisa bertanya soal do’s & don’ts saat memilih bahan-bahan untuk membuat sate ikan. Momen saat chef Rahung mulai membakar satenya, perpaduan aroma Andaliman dan sereh menusuk hidung mengoyak lambung, duhlapar perut saya.
Makanannya punya cita rasa campuran khas melayu hanya saja ini adalah versi masakan Indonesia dari Danau Toba. Saya juga mencicipi manisan buah. Dan di bawah ini adalah menu makan siang dengan rempah Andaliman yang saya cobain, di tambah sambal ulek pure Andaliman. Saya juga makan kue dangai, rasanya itu mirip kue wingko babat hanya saja teksturnya lebih kasar.

Piring saji makan siang saya dan kue Dangai
Menu makan siang, ini beberapa makanan yang saya cicipi dengan bahan andaliman
Mini booth JAVARA

Di Andaliman Talkshow ada booth Sayur Box dan JAVARA yang menjual produk organik dan rempah Indonesia. Jika, teman-teman rindu bumbu khas Danau Toba ini dan ingin membeli produk Andaliman seperti sambal, bubuk Andaliman, dsb bisa hubungi dibawah ini ya:Instagram@rempahandaliman1 atau @andalimanta sudah bisa di pesan lewat shopee lho!

isi goodie bag dari Andaliman Talkshow

Itulah pengalaman saya bersama Andaliman. Andaliman punya cita rasa yang bisa mewakili beberapa rempah, karena aromanya itu. Di Andaliman Talkshow ini saya bersyukur bisa mengenal lagi satu rempah unik dari Indonesia.
Kira-kira Andaliman bisa di buat kreasi apalagi nih, guys? komen di bawah ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *