Rempah Andaliman, Diapain OK Aja!

Posted by

Oleh Nur Terbit

Seorang blogger emak-emak yang doyan ikut demo masak, sempat heran begitu dirinya tahu, betapa banyaknya jenis kuliner di negeri ini.

Namun begitu, dia menyayangkan kurangnya promosi soal kuliner khas dari tiap daerah. Tidak terkecuali kuliner berbahan bumbu Andaliman dari Danau Toba, Sumatera Utara.

“Saya kalau pulang ke kampung keluarga suami di Sumatera Utara, merasakan masih kurangnya informasi tentang pengembangan kuliner daerah,” kata Dewi, teman blogger saya yang penggemar masak.

Danau Toba sendiri, seperti diakui Dewi, menjadi salah satu dari sepuluh destinasi baru next Bali. Ada juga masakan suku Karo di sana, yang biasanya dihidangkan untuk acara adat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, Dr Wan Hidayati, MSi, mengakui cukup banyak kuliner di Tanah Batak tersebut. Salah satunya produk berbahan tanaman rempah-rempah Andaliman.

Suasana acara Andaliman Talkshow

Saat berbicara di acara “Andaliman Talkshow” yang digelar Yayasan DR Sjahrir,di Jakarta, Sabtu 6 April 2019, Wan Hidayati banyak mengungkapkan mengenai tanaman rempah Andaliman, sebagai cita rasa Danau Toba, Sumatera Utara.

Beruntung, saya termasuk yang diundang sehingga bisa ikut mendengar kisah “Ibu Yati”. Alhamdulillah, ini Talkshow kedua yang saya ikuti dari Yayasan DR Sjahrir. Sebelumnya, di tempat yang sama, juga digelar dengan mengambil tema soal KELESTARIAN HUTAN. Liputannya bisa dibaca DI SINI

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, Dr Wan Hidayati, MSi,

Masakan etnis Batak, misalnya, diakui Wan Hidayati, banyak yang bisa dimodifikasi sebagai makanan tradisional Sumatera Utara. Bahan bakunya adalah Andaliman, bumbu dari jenis rempah-rempah khas Danau Toba.

“Saya melihat memang ternyata banyak sekali jenis kuliner dari Sumatera ini, terutama Sumatera Utara,” kata Hidayati.

Meski demikian, menurut Kadinas Pariwisata ini, dirinya tetap merasa sangat bangga melihat banyaknya portofolio dalam kuliner produk Sumatera Utara. “Salah satunya adalah wisata kuliner,” katanya.

Di antaranya ada kuliner Melayu. Kuliner tersebut di antaranya tersebar di daerah pantai yaitu Medan, Langkat, Binjai, dan sekitarnya. Ada juga masakan Karo. Pokoknya, banyak banget gitu.

Kemudian ada juga Mie Toba atau populer disebut sebagai Mie Gomak, atau yang pedes seperti Sambal Tuktuk. Semuanya memakai bahan dari Andaliman. Aromanya sangat khas. “Berdasarkan penelitian, dengan bumbu dari bahan Andaliman, ternyata bisa membangkitkan selera makan,” kata wanita berhijab ini.

Selain pembangkit selera makan, makanan berbahan rempah-rempah Andaliman ini, juga bisa menjadi obat untuk berbagai jenis penyakit. Seperti sakit perut, sakit gigi. Selain tentu saja, manfaat utamanya sebagai bahan pengawet dan penyedap rasa.

Nah, ini semua bukan isapan jempol. Tapi sudah berdasarkan penelitian. “Sudah banyak sekali penelitian tentang Andaliman,” katanya.

Sekedar informasi, masakan yang menggunakan Andaliman sendiri, sudah dibukukan menjadi sebanyak 336 jenis masakan. Antara lain makanan jenis roti, kue bawang, bahkan ada spagheti dengan bumbu Andaliman. Enak. Menggoda.

Masakan dari suku Karo lainnya, adalah icip-icip masakan di sekitar Danau Toba. Selalu dipakai untuk acara adat.

Inilah kelebihan dari pada makanan-makanan berbahan Andaliman ini.

Pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, berharap Andaliman bisa terus diperjuangkan untuk go publik. Masuk daftar menu kuliner internasional, dan menyebar ke seluruh dunia.

Mimpi Kepala Dinas Pariwisata Sumut ini, mungkin bukan sekedar mimpi siang bolong.

“Kalau dulu Indonesia dijajah untuk diambil rempah-rempahnya, sekarang kita harus memikirkan untuk masuk ke pasar dunia dengan jenis makanan dari bumbu berbahan rempah-rempah”.

Andaliman tumbuh di ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Ibu-ibu di sekitar Danau Toba banyak yang bekerja di ladang menanam jenis tanaman khas ini.

Pendapat senada, disampaikan Ir Murni Titi Resdiana MBA dari Kantor Utusan Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim. Wanita murah senyum ini melihat banyaknya kegunaan dari Andaliman.

Dia mempunyai pemikiran bagaimana agar ada pengembangan produk lebih luas lagi dari bahan yang bersumber dari Andaliman. Sabun atau pewangi ruangan, misalnya.

“Bagaimana kalau kita mencoba mengembangkan produk-produk berbahan Andaliman menjadi sabun, pewangi ruangan, kan bisa menarik dan dibutuhkan pasar,” katanya.

Atau, dibuat produk baru untuk alat semprotan dari merica sebagai “senjata” bagi wanita.

Senjata? Apa wanita disuruh perang?

“Saya terpikirkan. Bayangkan kalau misalnya bisa dibuat Andaliman sprei. Sejenis alat semprotan jika sewaktu-waktu wanita mengalami gangguan kejahatan di jalan. Pelecehan seksual misalnya,” kata Ibu Titi, sapaan akrabnya.

“Itu belum kepikiran aja sama Pak Marandus Sirait hehehehe…Andaliman sprei sebagai produk untuk menjaga perempuan dari kejahatan”.

TAMAN EDEN 100

Taman Eden 100, terletak di Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Termasuk dalam kawasan Geopark Kaldera Toba.

Menyebut nama taman ini, tidak bisa dilepaskan begitu saja tanpa ikut pula menyebut satu dari nama seorang pria: Marandus Sirait.

Bersama Marandus Sirait (dok pribadi)

Pak Sirait, begitu sapaan akrabnya, cukup besar peranannya dalam memperkenalkan tanaman ini. Khususnya jika kita menyebut Andaliman, nama salah satu tanaman rempah-rempah yang manfaat dan kegunaannya luar biasa.

Apa itu Andaliman? Seorang teman fotografer, Rahab Ganendra, sempat penasaran. Sembari bercanda, ia mempertanyakan nama bagaimana asal mula nama Andaliman.

“Sejarahnya gimana sih? Kok kayak nama orang, Anda Liman?”.

Awalnya, diceritakan adalah merupakan salah satu produk dari pada hasil letusan atau ion. Itu terjadi 75 tahun yang lalu. Andaliman hanya bisa didapat di sekitar Danau Toba. Andaliman pula kini tumbuh subur di areal Taman Eden 100 ini.

Ketika terjadi letusan vulkanik, material menutup bumi . Dampaknya, semua kehidupan di sekitarnya mati. Walaupun namanya bencana, tetapi akhirnya menjadi suatu anugerah.

Hal ini karena adanya tumbuh-tumbuhan yang hidup di sana. Menyesuaikan diri, beradaptasi sesuai dengan temperatur yang ada pada saat itu.

Apa kaitan antara Andaliman dengan Taman Eden?

Menurut Sirait, keberadaan Taman Eden memiliki latar belakang cerita yang panjang.

Pada masa Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar,saat itu tengah digencarkan program Martabe (Marsipature Hutanabe). Martabe artinya membenahi kampung halaman masing-masing.

Hal inilah yang menjadi inspirasi masyarakat untuk menyongsong hari depan, terutama dengan mengatasi kemiskinan dan memerangi pengrusakan alam.

Tahun 1998 dibuatlah program Taman Eden 100. Menurut catatan yang pada brosur yang dibagikan Sirait, “Taman Eden”, artinya manusia, tanaman, makhluk hidup lainnya hidup rukun di dalamnya. Sedang “100” artinya seratus jenis tanaman pohon berbuah.

Adapun visi dan misi dari keberadaan Taman Eden 100 ini, tidak lain adalah :

Visi: Terpeliharanya kesaksian kebesaran Tuhan kepada semua orang melalui alam ciptaanNya yang mampu mendukung keutuhan ekosistem kawasan Danoau Toba.

Misi: Membuat desa percontohan di bidang pertanian, peternakan dan pariwisata. Membuat proyek agrowisata rohani (Taman Eden). Mengadakan penelitian di bidang pertanian dan lingkungan hidup.

Selain itu, juga membantu pemerintah dan masyarakat dalam usaha melestarikan alam danau Toba. Melestarikan hutan serta isinya yang ada di lokasi agrowisata rohani Taman Eden.

Bagi Sirait, Andaliman diakui memang bukan tanaman biasa. Itu sebabnya, segala perhatian dia curahkan untuk Andaliman dan Taman Eden 100.

“Saya dan beberapa teman, sengaja lebih fokus ke Andaliman. Saya minta kegiatan di Taman Eden lebih berarti dan bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat, terutama di sekitar di Danau Toba,” kata Sirait.

DANAU TOBA

Danau Toba sendiri, sudah ditetapkan menjadi 10 destinasi pariwisata prioritas di Indonesia. Juga sekaligus sebagai kawasan strategis pariwisata Nasional.

“Kunjungan wisatawan meningkat ke Danau Toba,” kata Idayati. Menurut catatan Dinas Pariwisata Sumatera Utara, sejak Februari tahun 2019, ternyata terjadi kenaikan kunjungan wisata yaitu sebesar 33,61 persen.

Sebelum Andaliman populer seperti sekarang ini, hanya ada lukisan ikan sebagai cendera mata. Karena itu, Sirait ingin agar ada nilai ekonominya.

“Jadi tidak terbatas hanya sekedar lukisan ikan Danau Toba, tapi ada nilai ekonomi yang bisa dirasakan bagi kesejahteraan masyarakat setempat, ” kata Sirait.

Di daerah tersebut, memang ada beberapa kabupaten yang menjadi andalan ekonomi di kawasan Danau Toba. Potensi alam dan sumber dayanya, sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai penyelamatan lingkungan.

Menurut Sirait, kiprahnya di Taman Eden dimulai sejak tahun 1999. “Kita baru mulai itu dua tahun terakhir ini,” tambah Sirait.

Ibu-ibu di sekitar Danau Toba, saat ini banyak yang bekerja di ladang.

“Kenapa sih kok bapak-bapak kelihatan santai-santai aja. Padahal zaman dahulu kaum bapak berburu ke hutan. Berhari-hari?”. Zaman sudah berganti.

Di Taman Eden 100, juga lebih berwarna kini. Sejak 29 Desember 2007, Bank Pohon didirikan untuk mensuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba, dalam rangka penghijauan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Bank Pohon terbuka menerima donor untuk membantu penyediaan bibit-bibit gratis kepada masyarakat yang kurang mampu.

Taman Eden 100 menyediakan juga lokasi penanaman pohon bagi para tamu yang komitmen dalam pelestarian alam; bibit dan pamplet nama penanam disediakan.

Jadi, benarlah kata Sirait. Taman Eden 100 merupakan sepenggal kebesaran Tuhan di kawasan Danau Toba. Destinasi wisata Tanah Batak ini menjadi situs yang merefleksikan manusia dan bumi ikhlas dalam upaya pemulihan, pelestarian, perlindungan dan pengawasan integritas ekosistem. Horas ! Maulite !

Informasi acara ini boleh diklik DI SINI

(Nur Terbit)

Logo Yayasan Doktor Sjahrir (fotom: Nur Terbit)
Dr. Nurmala Kartini Pandjaitan, istri almarhum Doktor Sjahrir (foto dok YDS)
Dr. Nurmala Kartini Pandjaitan, istri almarhum Doktor Sjahrir (foto dok YDS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *